GAMELAN


Bagi masyarakat Jawa khususnya, gamelan bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan kesehariannya. Dengan kata lain, masyarakat tahu benar mana yang disebut gamelan atau seperangkat gamelan. Mereka telah mengenal istilah gamelan. Namun barangkali masih banyak yang belum mengetahui bagaimana sejarah perkembangan gamelan itu sendiri.

Menurut Sumarsam, gamelan diperkirakan lahir pada saat budaya luar dari Hindu–Budha  (sic) mendominasi Indonesia . Walaupun pada perkembangannya ada perbedaan dengan musik India, tetapi ada beberapa ciri yang tidak hilang, salah satunya adalah cara “menyanyikan” lagunya. Penyanyi pria biasa disebut sebagai wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana (Sumarsam 2003: 35)

Menurut kamus bahasa Indonesia Purwodarminto, gamelan adalah seperangkat alat musik yang digunakan untuk mengiringi sebuah pertunjukan.

Menurut buku yang berjudul Mengenal Secara Mudah Dan Lengkap Kesenian Karawitan Gamelan Jawa dari Farabi Ferdiansyah (2010: 23) Gamelan berasal dari kata nggamel (dalam bahasa jawa)/gamel yang berarti memukul/menabuh, diikuti akhiran “an” yang menjadikannya sebagai kata benda.  Sedangkan istilah gamelan mempunyai arti sebagai satu kesatuan alat musik yang dimainkan bersama.

Gamelan merupakan satu kesatuan utuh berbagai unsur alat musik yang diwujudkan dan dibunyikan bersama (http://www.visitsemarang.com). Gamelan juga merupakan alat musik yang biasa dipakai dalam pertunjukan wayang Jawa (http://www.seasite.niu.edu).

Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya/alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama (http://ruddabby.wordpress.com). Gamelan adalah musik yang tercipta dari paduan bunyi gong, kenong dan alat musik Jawa lainnya. Irama musik yang lembut dan mencerminkan keselarasan hidup orang Jawa akan segera menyapa dan menenangkan jiwa begitu didengar (Yunanto Wiji Utomo 2006, http://www.yogyes.com)

Gamelan Jawa adalah satu set alat musik yang terdiri dari berbagai macam variasi bentuk dan ukuran, serta mempunyai bunyi yang berbeda-beda. Cara memainkannya pun ada bermacam-macam, namun kebanyakan di antaranya dipukul/ditabuh. Gamelan Jawa antara lain adalah gong, kempul, kenong, kethuk-kempyang, celempung, suling, kemanak, kendhang, rebab, saron, dan slenthem. Jika dimainkan secara bersamaan, senada dan selaras akan menghasilkan bunyi yang sangatlah indah dan merdu didengar. Karena setiap ketukannya akan menghasilkan suara beraneka ada yang melengking dan ada yang kedengarannya sangat mendentum. Permainan gamelan tersebut biasa disebut dengan karawitan.

Gamelan jawa merupakan instrumen yang sangat digemari oleh orang-orang Jawa. Permainan Gamelan Jawa sangatlah populer dikalangan orang-orang Jawa, karena itu sudah menjadi tradisi turun temurun dari kakek nenek moyang jaman dahulu. Permainan gamelan Jawa mempunyai beberapa fungsi dalam kehidupan adat istiadat Jawa, misalnya saja acara hajatan atau peristiwa pernikahan, upacara keraton, khitanan, syukuran, serta hiburan masyarakat lainnya, seperti, hiburan seni, campur sari, pagelaran wayang kulit, dan ada juga permainan gamelan dipakai sebagai pengisi acara di gereja kristen Jawa, dan sebagainya. Permainan gamelan Jawa juga dapat dipadukan dengan berbagai instrumen modern, contohnya saja instrumen keyboard. Perpaduan keyboard dengan permainan gamelan Jawa menghasilkan karya yang populer disebut dengan musik campursari.

Di daerah Klaten dimana tempat penulis tinggal, karawitan masih cukup eksis dan signifikan di dunia kesenian klaten. Dentang suara yang merdu dan suara yang indah ini tercipta dari karawitan. Karawitan sendiri tercipta dari alat–alat musik yang biasa disebut dengan gamelan ketika dimainkan oleh sekelompok orang dalam membawakan sebuah gending.

Gamelan biasa dimainkan oleh beberapa orang, dan tidak bisa dimainkan secara individu.  Maka perlu kebersamaan dalam memainkan gamelan. Alat musik gamelan sangatlah menarik, karena bentuknya yang unik dan sangat khas. Contohnya saja gong, gong mempunyai bentuk yang unik, ciri–cirinya adalah, bulat besar dan ditengahnya ada tonjolan, jika tonjolan itu dipukul maka akan berbunyi “gong” dengan nada yang besar. Gong sering dibunyikan saat akhir ketukan, setelah kenong, kempul dan alat gamelan lain dimainkan. Jadi gong sering mengakhiri/menutup irama alunan karawitan dalam sebuah permainan gamelan.

Alunan musik gamelan musiknya terasa mendayu–dayu, kalem, dan enak didengar, makin lama mendengar makin terasa selaras dan bisa membuat kantuk seseorang karena alunan nadanya.

Dari keunikan bentuk gamelan, dan spirit kebersamaan dalam memainkan gamelan, penulis terinspirasi dan selanjutnya mengangkat gamelan sebagai tema karya-karya penciptaan seni grafis penulis dalam proyek tugas akhir ini.

Seperti halnya manusia, dapat difilosofikan gamelan sebagai manusia, manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia juga harus seperti gamelan, yang selaras, saling pengertian serta mempunyai semangat gotong royong yang tinggi. Karena manusia diciptakan sebagai mahluk sosial, yang saling tolong menolong antar sesamanya. Tanpa harus memandang jabatan, strata dan kedudukan.

Bagi masyarakat Jawa khususnya, gamelan bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan kesehariannya. Dengan kata lain, masyarakat tahu benar mana yang disebut gamelan atau seperangkat gamelan. Mereka telah mengenal istilah gamelan. Namun barangkali masih banyak yang belum mengetahui bagaimana sejarah perkembangan gamelan itu sendiri.

Menurut Sumarsam, gamelan diperkirakan lahir pada saat budaya luar dari Hindu–Budha  (sic) mendominasi Indonesia . Walaupun pada perkembangannya ada perbedaan dengan musik India, tetapi ada beberapa ciri yang tidak hilang, salah satunya adalah cara “menyanyikan” lagunya. Penyanyi pria biasa disebut sebagai wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana (Sumarsam 2003: 35)

Menurut kamus bahasa Indonesia Purwodarminto, gamelan adalah seperangkat alat musik yang digunakan untuk mengiringi sebuah pertunjukan.

Menurut buku yang berjudul Mengenal Secara Mudah Dan Lengkap Kesenian Karawitan Gamelan Jawa dari Farabi Ferdiansyah (2010: 23) Gamelan berasal dari kata nggamel (dalam bahasa jawa)/gamel yang berarti memukul/menabuh, diikuti akhiran “an” yang menjadikannya sebagai kata benda.  Sedangkan istilah gamelan mempunyai arti sebagai satu kesatuan alat musik yang dimainkan bersama.

Gamelan merupakan satu kesatuan utuh berbagai unsur alat musik yang diwujudkan dan dibunyikan bersama (http://www.visitsemarang.com). Gamelan juga merupakan alat musik yang biasa dipakai dalam pertunjukan wayang Jawa (http://www.seasite.niu.edu).

Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya/alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama (http://ruddabby.wordpress.com). Gamelan adalah musik yang tercipta dari paduan bunyi gong, kenong dan alat musik Jawa lainnya. Irama musik yang lembut dan mencerminkan keselarasan hidup orang Jawa akan segera menyapa dan menenangkan jiwa begitu didengar (Yunanto Wiji Utomo 2006, http://www.yogyes.com)

Macam-Macam Gamelan Jawa

Dari buku yang berjudul hayatan gamelan dan gamelan yang ditulis oleh Sumarsan maka penulis dapat menguraikan lebih lanjut macam-macam instrumen gamelan. Komponen utama susunan alat-alat musik gamelan adalah bambu, logam, dan kayu. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan, misalnya gong berperan menutup sebuah irama musik yang panjang dan memberi keseimbangan setelah sebelumnya musik dihiasi oleh irama gending.

Seperangkat gamelan terdiri dari beberapa macam instrumen antara lain :

a. Bonang

Bonang terbagi dari 3 macam yaitu bonang barung, bonang panembung, dan bonang penerus. Bonang mempunyai bentuk seperti “ceret” atau “pot” yang ditempatkan secara horizontal ke string dalam bingkai kayu, baik satu atau dua baris lebar. Semua ceret memiliki bos pusat/tonjolan di tengahnya. Dan jika bos pusat tersebut dipukul akan menimbulkan bunyi.

Gambar 1. Bonang

(Sumber gambar : penulis)

b.      Celempung

Celempung adalah instrumen kawat petik, yang dibingkai pada semacam gerobongan (juga berfungsi sebagai resonator) yang berkaki dua pasang, bentuknya hampir mirip seperti belalang. Dan di atasnya terdapat kawat–kawat vertikal membentuk seperti sikat gigi. Kawatnya terdiri dari tiga-belas pasang, ditegangkan antara paku untuk melaras (di atas) dan paku-paku kecil (di bawah). Kepingan metal diletakkan di sisi atas gerobongan, sebagai jembatan pemisah kawat-kawat. Celempung dimainkan dengan jari jempol tangan kiri dan kanan, sedangkan jari yang tangan lainnya dipakai sebagai penutup kawat-kawat yang tidak dipetik.

Gambar 2. Celempung

(http://orgs.usd.edu)

c.       Gambang

Gambang merupakan instrumen yang terbuat dari bilah-bilah kayu yang dibingkai pada gerobongan yang juga berfungsi sebagai resonator. Bentuknya hampir mirip batu nisan di makam-makam Jawa. Dan terdapat bilah-bilah kayu di atasnya. Bilahnya berjumlah tujuh-belas sampai dua-puluh bilah. Gambang dimainkan dengan tabuh berbentuk bundar dengan tangkai panjang biasanya dari tanduk, dan ditabuhkan di atas bilah-bilah kayu tersebut.

Gambar 3. Gambang

(Sumber gambar: penulis)

d.      Gender

Gender merupakan instrumen yang terdiri dari bilah-bilah metal yang ditegangkan dengan tali di atas bumbung-bumbung resonator. Bumbung resonator ini tercipta dari bambu-bambu yang bentuknya silinder yang ditata secara sejajar horisontal. Jika dilihat dari sisi muka bentuknya berupa persegi panjang.

Gambar 4. Gender

(Sumber gambar: penulis)

e.       Gong

Gong merupakan instrumen yang digantung, berposisi vertikal. Bentuk gong bulat dan berukuran besar atau sedang. Di tengahnya terdapat bos pusat/tonjolan, yang biasa ditabuh di bagian tengah-tengah bos pusatnya itu, dengan tabuh bundar berlapis kain.

Gambar 5. Gong

(Sumber gambar: penulis)

f.       Kemanak

Kemanak adalah instrumen yang berbentuk seperti sendok. Sendok yang terbuat dari kuningan. Bentuknya simple, enteng, dan mudah dibunyikan. Cara membunyikannya dengan saling mengetukkan/saling dipukulkan.

Gambar 6. Kemanak

(http:orgs.usd.edu/nmm/Gamelan/9893/Kemanak9893.html.)

g.      Kendhang

Kendhang mempunyai bentuk simetris, yang bentuknya seperti tabung, dengan bersisi dua dengan sisi kulitnya ditegangkan dengan tali dari kulit atau rotan ditata dalam bentuk “Y”, yang diletakkan di atas bingkai kayu (plankan) pada posisi horisontal.

Gambar 7. Kendhang

(Sumber gambar : penulis)

h.      Kenong

Kenong adalah satu set instrumen jenis gong yang bentuknya hampir mirip dengan bonang, yang bentuknya seperti ceret dan ditengahnya terdapat bos pusat/tonjolan. Namun yang berbeda adalah jumlahnya lebih sedikit dibanding dengan bonang. Kenong berposisi horisontal yang ditumpangkan pada tali yang ditegangkan pada bingkai kayu.

Gambar 8. Kenong

(Sumber gambar: penulis)

i.        Kethuk-Kempyang

Kethuk-Kempyang adalah dua instrumen jenis gong yang berukuran kecil. Namun bentuknya juga seperti bonang dan kenong, bulat dan di tengahnya terdapat bos besar/ tonjolan, jika dipukul akan menghasilkan bunyi. Kethuk lebih kecil dbanding kenong ukurannya, namun lebih tinggi. Sedangkan kempyang agak besar pendek dan melebar. Ditempatkan pada posisi horisontal, ditumpangkan pada tali yang ditegangkan pada bingkai kayu.

Gambar 9. Kethuk-Kempyang

(Sumber gambar: penulis)

j.    Rebab

Rebab merupakan instrumen kawat gesek dengan 2 kawat yang ditegangkan pada selajur kayu dengan badan bentuk hati. Badan yang berbentuk hati itu terbuat dari tempurung kelapa. Yang kemudian ditutup dengan membran (kulit tipis) dari babad sapi.

Gambar 10 . Rebab

(http://www.pasarjava.com/senibudaya/gamelan/rebab.jpg)

k.   Saron

Saron merupakan instrumen yang berbentuk bilahan dengan enam atau tujuh bilah, yang ditumpangkan pada bingkai kayu yang juga berfungsi sebagai resonator. Instrumen ini ditabuh dengan tabuh yang dibuat dari kayu dan tanduk. Dan tabuhnya berbentuk seperti palu.

Gambar 11. Saron

(Sumber gambar : penulis)

l.    Slenthem

Menurut konstruksinya, slenthem termasuk keluarga gender, malahan kadang-kadang ia dinamakan gender panembung. Tetapi slenthem mempunyai bilah sebanyak bilah saron yaitu 7 bilah. Slenthem mempunyai bentuk seperti kijing makam yang berwarna kuning emas.

Gambar 12. Slenthem

(http:orgs.usd.edu/nmm/Gamelan/9858/Slenthem9858.html)

m.  Suling

Suling adalah alat musik dari keluarga alat musik tiup kayu. Instrumen Suling berupa potongan bambu yang pendek dan di tubuhnya terdapat lubang-lubang yang dapat menghasilkan suara jika ditutup salah satunya secara bergantian sambil ditiup di bagian ujungnya.

Gambar 13. Suling

(http://id.wikipedia.org/wiki/Suling)

Gamelan Jawa

Penggunaan istilah gamelan dan karawitan sudah mulai sama dengan yang diberlakukan di Indonesia , terutama oleh para praktisi maupun para akademisi yang telah berhubungan lebih jauh atau akrab dengan dunia musik gamelan, dunia karawitan.

Menurut wikipedia gamelan, kata nggamel (dalam bahasa Jawa) dapat berarti memukul. Itulah kemungkinannya mengapa gamelan dianggap sebagai satu perangkat musik pukul atau perkusi (ansambel atau orkes, yang nama dan jenisnya tergantung dari jenis, jumlah atau komposisi ricikan-ricikan yang digunakan serta fungsinya di masyarakat), walau pada kenyataannya perangkat gamelan juga melibatkan alat-alat musik non perkusi.

Berkaitan dengan perkembangan jaman, perkembangan fungsi kesenian, selera jaman, berikut ini adalah beberapa nama perangkat gamelan yang pernah ada dan sampai sekarang masih ditabuh dan berfungsi :

1. Gamelan Kodhok Ngorek, berfungsi sebagai pengiring acara hajatan atau peristiwa pernikahan. Karena gamelan Kodhok Ngorek berlaras slendro maka wajar, enak, dan tidak ada kejanggalan sama sekali bila pada perangkat gamelan tersebut melibatkan gender dan gambang gangsa slendro. Alasan lain yang digunakan untuk menguatkan pendapatnya, Pak Martapangrawit menyebutkan bahwa kehadiran slenthem pada perangkat gamelan ageng bermain dengan menggunakan nada 4 (pelog) dan 3 (dhadha), jarak tersebut pada dasarnya adalah sama dengan interval slendro, seperti layaknya interval nada lima ke dhadha slendro.

2. Gamelan Monggang, fungsi dan kegunaannya untuk kelengkapan berbagai acara dan upacara dilingkungan keraton/kadipaten dan kabupaten pada masa itu, seperti memberi tengara pada upacara penobatan dan jumenengan raja, mengiringi latihan perang prajurit bertombak atau acara sodoran, serta sebagai pengiring kelahiran bayi laki-laki dari keluarga raja, dan sebagainya.

3. Gamelan Cara Balen, berfungsi untuk menghormati kedatangan tamu, baik dalam upacara keluarga, kerajaan, ataupun kemasyarakatan. Misalnya, pasar malam sekatenan, fair, mantenan, khitanan, syukuran, dan sebagainya.

4. Gamelan Sekaten, dibunyikan setiap setahun sekali selama seminggu, dari tanggal 5 s/d 12 setiap bulan Mulud (menurut kalender Jawa), pada setiap bulan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W.

5. Gamelan Ageng, berfungsi hampir setiap hari untuk keperluan kemasyarakatan seperti, hiburan seni, campur sari, pagelaran wayang kulit, dan sebagainya.

OBYEK WISATA KAB KLATEN


OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA

DI KABUPATEN KLATEN

Objek dan daya tarik wisata (ODTW) yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Klaten sangat beragam, baik dalam hal karakteristik objeknya maupun dalam kaitannya dengan faktor penunjang ODTW tersebut. Berikut akan disajikan analisis ODTW dengan menggunakan pendekatan 4-A, yakni Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas dan aktivitas.

A. OBJEK DAN DAYA TARIK WISATA ALAM

1. Deles Indah,
2. Sendang Kali Reno ( Deles Kemalang ) :
3. Sendang Tretes ( Ngreden Wonosari )
4. Sendang Nglebak (Desa Krakitan Kecamatan Bayat)

5. » Umbul Buto ( Kedungan Pedan )
6. » Rowo Jombor ( jimbung )
7. » Sendang Bulus Jimbung
8» Taman Rekreasi anak anak di Bukit Sidoguro
9. » Gua Kendil dan Gua Payung ( Krakitan Bayat )
10. » Bukit Petung ( Sidorejo Kemalang)
11. » Umbul Gedaren ( Kel jatinom Kec jatinom )
12. » Gua Suran ( Kel jatinom Kec jatinom )
13. » Pemandian Lumban Tirto
14. » Pemandian Jolotundo
15. » Pemandian ponggok
16. » Umbul Tirto Mulyono dan Tirto Mulyani ( Pluneng Kebonarum )
17. » Sendang Klampeyan
18. » Sendang Gotan
19. » Sendang Riyo Manggolo
20. » Sendang Maerokoco
21. » Sendang Sinongko ( Pokak Ceper )
22. » Sendang Belik gatak ( Jimus Polanharjo )
23. » Umbul Tirtomoyo (Ds. Kedungan Kec. Pedan)
24. » Gunung Watu Prahu (Dk. Girisono Ds. Gunung Gajah Kec. Bayat)
25. » Taman Bambu Cendani (Ds. Sidorejo Kec. Kemalang)
26. » Goa Jepang (Desa Sidorejo Kecamatan Kemalang)
27. » Goa Jetis (Kelurahan Jatinom Kec. Jatinom)
28. » Umbul Susuhan (Desa Manjungan Kec. Ngawen)
29. » Umbul Her Pancuran Sidomulyo (Ds. Soropaten Kec. Karanganom

B. OBJEK DAN DAYA TARIK WISATA BUATAN


1.
Museum Gula Jawa Tengah dan Pabrik Gula Gondang Baru
2. Gedung Olah Raga (GOR) Gelar Sena
3.
Monumen Nartosabdo (Kelurahan Tonggalan Kec. Klaten Tengah)
4.
Monumen Juang ’45 (Ds. Jonggrangan Kec. Klaten Utara)
5.
Monumen Perwari (Kelurahan Tegalyoso Kec. Klaten Selatan)
6.
Kolam Renang Kawasan Komando Pendidikan Latihan Tempur
7.
Bumi Perkemahan Kepurun (Ds. Kepurun Kec. Manisrenggo
8.
Monumen PERATA
9.
Taman Bukit Sidagora (Desa Krakitan Kecamatan Bayat)
10.
Pemandian Tirtomulyono (Ds. Pluneng Kec. Kebonarum)
11.
Pemandian Tirtomulyani (Ds. Pluneng Kec. Kebonarum)
12.
Kolam Renang/Pemandian Jolotundo
13.
Kolam Renang/Pemandian Lumban Tirto
14.
PT. Cokro Supertirta (Ds. Wunut Kec. Tulung)
15.
PT. Aquafarm Nusantara (Ds. Wunut Kec. Tulung)
16.
Agrowisata rambutan (Ds. Tulung Kec. Tulung)
17.
Kolam renang/Pemandian Ponggok
18.
Kolam Renang dan Aren\a Bermain Tirto Raharja
19.
PT. Aqua Golden Mississippi
20.
Kolam Renang/Pemandian Sumber Nila
21.
Monumen Slamet Riyadi (Ds. Sidoarjo Kec. Polanharjo)
22.
Agrowisata Bonsai
23.
Pasar dan kelompok Seni Lukis
24.
Kebun Tembakau

C. OBJEK DAN DAYA TARIK WISATA BUDAYA (WISATA ZIARAH)

Kabupaten Klaten memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan wisata minat khusus berupa wisata ziarah. Hal ini dikarenakan di wilayah tersebut terdapat banyak makam dan tempat ritual lainnya yang banyak dikunjungi orang yang melakukan kegiatan ziarah, kegiatan religius dan kegiatan ritual lainnya. Potensi yang berupa makam tersebut tersebar di berbagai wilayah kecamatan/desa di Kabupaten Klaten dan sebagian telah berkembang sebagai objek wisata yang cukup dikenal oleh pasar/wisatawan.


1.
Makam Kerabat Karaton Kartasura
2.
Makam Pahlawan 45 Jonggrangan
3.
Masjid Atta “Awun (Ds. Banaran Kec. Delanggu)
4.
Makam Veteran Pejuang Kemerdekaan RI
5.
Makam Ki Ageng Perwito (Ds. Ngreden Kec. Wonosari)
6.
Astono Hargomulyo Gunung Wijil
7.
Makam Kyai Kaligawe (Ds. Kaligawe Kec. Pedan)
8.
Arca Nyi Loro Tanjungsari (Desa Ceper Kecamatan Ceper)
9.
Makam R. Ng. Ronggowarsito
10.
Makam Kyai Brojo Anilo (Desa Sajen Kecamatan Trucuk)
11.
Batu Megantoro (Desa Sajen Kecamatan Trucuk)
12.
Makam Ki Ageng Glego (Ds. Kalikebo Kec. Trucuk)
13.
Makam Ki Ageng Jayeng Resmi
14.
Makam Ki Nerangkusumo
15.
Petilasan Sunan Kalij
16.
Makam Gedhong Gedhe/Kyai Ageng MadSahar
17.
Makam Kyai Ketib Banyumeneng
18.
Masjid Besar SRIDJAJA (Ds. Bawak Kec. Cawas)
19.
Makam Ki Mireng Langse
20.
Makam Kyai Pandanaran
21.
Masjid Besar Sunan Pandanaran
22.
Makam Pangeran Wuragil Gunung Malang
23.
Makam Syech Kewel (Ds. Nengahan Kec. Bayat)
24.
Makam Syech Domba Gunung Cakaran
25.
Makam Sayid Habib (Desa Krakitan Kecamatan Bayat)
26.
Masjid Agung Kauman
27.
Makam Gusti Panembahan Agung
28.
Makam Eyang Gusti Semaring Gedhong Mindi
29.
Masjid Mindi (Ds. Kaligayam Kec. Wedi)
30.
Makam Kyai Ageng Syarifuddin
31.
Makam Kyai Melat
32.
Masjid Agung (Kelurahan Kabupaten Kec. Klaten Tengah)
33.
Komplek Makam Panembahan Romo, Pangeran Riyomenggolo
34.
Pesanggrahan Pakoe Boewono X
35.
Makam Kyai Maloyopati (Dk. Deles Ds. Sidorejo Kec. Kemalang)
36.
Makam Ki Ageng Gribig (Kelurahan Jatinom Kec. Jatinom)
37.
Masjid Besar Jatinom (Kelurahan Jatinom Kec. Jatinom)
38.
Masjid AlitJatinom (Kelurahan Jatinom Kec. Jatinom)
39.
Makam Sorowaden (Desa Kahuman Kec. Ngawen)
40.
Masjid Sorowaden (Desa Kahuman Kec. Ngawen)
41.
Makam Eyang Proyokusumo (Desa Kahuman Kec. Ngawen)
42.
Makam Kyai Imam Rozi
43.
Makam Nyai Sawunggaling (Desa Mayungan Kec. Ngawen)
44.
Makam Gedhong Drono Mandurorejo
45.
Makam Kyai Karsorejo
46.
Makam Nyai Ageng Anjang Mas
47.
Makam Kyai Ageng Putut Selogringging
48.
Makam Soejono Hoemardani (Ds. Janti Kec. Polanharjo)
49.
Makam Eyang Joyokartiko (Ds. Janti Kec. Polanharjo)
50.
Masjid Al-Fatah (Ds. Keprabon Kec. Polanharjo)

D. OBYEKDAN DAYA TARIK WISATA BUDAYA (PENINGGALAN SEJARAH) DIKLATEN

Di samping kaya dengan potensi wisata ziarah, Kabupaten Klaten juga memiliki potensi wisata budaya, khususnya yang berkaitan dengan peninggalan-peninggalan nenek moyang seperti candi, kesenian (seni pertunjukan) dan seni kerajinan. Beberapa peninggalan yang berupa candi antara lain adalah Candi Sewu, Candi Bubrah, Candi Lumbung, Candi Sojiwan, Candi Plaosan, Candi Asu dan sebagainya. Di samping peninggalan sejarah yang berupa candi juga terdapat beberapa peninggalan yang berupa aset seni budaya baik seni kerajinan maupun seni pertunjukan.

  1. Taman Wisata Candi Prambanan (Dk. Ngringin Ds. Tlogo Kec. Prambanan)
  2. Candi Lumbung (Dk. Ngangkruk Ds. Tlogo Kec. Prambanan)
  3. Candi Bubrah (Dk. Ngangkruk Ds. Tlogo Kec. Prambanan)
  4. Candi Sewu (Dk. Ngangkruk Ds. Tlogo Kec. Prambanan)
  5. Candi Asu (Dk. Bener Ds. Bugisan Kec. Prambanan)
  6. Candi Plaosan Lor (Dk. Plaosan Ds. Bugisan Kec. Prambanan)
  7. Candi Plaosan Kidul (Dk. Plaosan Ds. Bugisan Kec. Prambanan)
  8. Candi Sojiwan (Dk. Banjarsari Ds. Kebondalem Kidul Kec. Prambanan)
  9. Candi Merak (Dk. Candi Ds. Karangnongko Kec. Karangnongko)

E. OBJEK DAN DAYA TARIK WISATA BUDAYA (WISATA KERAJINAN)

    1. Sentra Kerajinan Tatah Sungging Wayang Kulit
    2. Sentra Kerajinan Wayang Kayu (Ds. Gemampir Kec. Karangnongko)
    3. Sentra Kerajinan Payung
    4. Sentra Kerajinan Mebel Ukir (Ds. Serenan Kec. Juwiring)
    5. Sentra Industri Mebel (Ds. Sajen Kec. Trucuk)
    6. Sentra Industri Mebel (Ds. Gombang Kec. Cawas)
    7. Sentra Kerajinan Lurik (Desa Pedan Kecamatan Pedan)
    8. Sentra Industri Konveksi (Desa Wedi Kecamatan Wedi)
    9. Sentra Pembuatan Cor Logam
    10. Sentra Kerajinan Keramik
    11. Sentra Kerajinan Tanduk Kerbau (Sungu) dan Penyu
    12. Sentra Industri Alat Pertanian dan Alat Dapur
    13. Sentra Industri Alat Pertanian dan Alat Dapur
    14. Sentra Kerajinan Manik-Manik
    15. Rumah Seni Cempaka
    16. Rumah Batik Nusa Indah


F. OBJEK DAN DAYA TARIK WISATA BUDAYA (UPACARA TRADISIONAL)

  1. Upacara Yaqowiyu (Kelurahan Jatinom, Kec. Jatinom)
  2. Upacara Bersih Sendang Sinongko (Desa Pokak, Kec. Ceper)
  3. Upacara Bersih Desa Tanjungsari (Desa Ceper, Kec. Ceper)
  4. Upacara Padusan
  5. Upacara Ruwahan/Jodangan (Desa Paseban, Kec. Bayat)
  6. Upacara Syawalan (Desa Krakitan, Kec. Bayat)
  7. Upacara Maleman (Desa Jonggrangan, Kec. Klaten Utara)
  8. Upacara Memuli (Desa Bawak, Kec. Cawas)
  9. Upacara Sadranan (Desa Ringinputih, Kec. Karangdowo)

G. OBJEK DAN DAYA TARIK WISATA BUDAYA (SENI PERTUNJUKAN TRADISIONAL)

    1. Wayang Orang
    2. Wayang Klitik
    3. Wayang Kulit
    4. Wayang Babad
    5. Jathilan
    6. Gejog Lesung
    7. Srandul
    8. Kethoprak
    9. Karawitan
    10. Srunthul

    H. DESA WISATA

    1. Desa Wisata Keprabon (Kec. Polanharjo)Desa Wisata Janti (Ds. Janti Kec. Polanharjo)
    2. Desa Wisata Janti
    3. Desa Wisata Paseban (Kec. Bayat)
    4. Desa Wisata Krakitan (Kec. Bayat)
    5. Desa Wisata Jimbung (Kec. Kalikotes)
    6. Desa Wisata Melikan (Kec. Kalikotes)
    7. Desa Wisata Soran (Desa Duwet Kec. Ngawen)
    8. Desa Wisata Pokak (Kec. Ceper)
    9. Desa Wisata Ponggok (Kec. Polanharjo)
    10. Desa Wisata Jatinom (Kec. Jatinom)
    11. Desa Wisata Juwiring (Kec. Juwiring)
    12. Desa Wisata Tegalmulyo (Kec. Kemalang)
    13. Desa Wisata Sidorejo (Kec. Kemalang)
    14. Desa Wisata Plawikan (Kec. Jogonalan)
    15. Desa Wisata Ceper (Kec. Ceper)
    16. Desa Wisata Sobayan (Kec. Pedan)
    17. Desa Wisata Bugisan (Kec. Prambanan)
    18. Desa Wisata Manisrenggo (Kec. Manisrenggo)


OBYEK DAN WISATA ALAM DI KABUPATEN KLATEN

1. Deles Indah,

Deles Indah merupakan Obyek Wisata yang terletak di lereng kaki gunung Merapi sebelah timur ± 25 km dari Kota Klaten, Deles berada di Wilayah Desa Sidorejom Kecamatan Kemalang, dengan ketinggian antara 800 m – 1300 m diatas permukaan laut Deles mempunyai potensi spesifik suasana pemandangan alam pegunungan. Dari obyek wisata deles dapat dilihat pemandangan puncak Merapi dengan nyata, pemandangan kota Klaten yang dihiasi dengan cerobong Perusahaan Gula gondang Baru & perusahaan Ceper Baru dengan berselendangkan Rowo Jombor dengan Jajaran Gunung Kapurnya merupakan Panorama yang Indah.


 

 

 

 

 

 

GAPURA PINTU MASUK NDELES

 

GUNUNG MERAPI DILIHAT DARI NDELES

2. Sendang Kali Reno ( Deles Kemalang ) :

Sendang Kalireno mempunyai warna air yang berwarna-warni

3. Sendang Tretes ( Ngreden Wonosari )

Terletak di Desa Ngraden, Kecamatan Wonosari Jarak dari kota Klaten ± 15 km Luas sendang 400 m2 Kedalaman rata rata 2 m,

Makam Ki Ageng Perwito, putera Syech Alim Akbar III yang bergelar Sultan Trenggono ( Raja Demak Bintoro ) yang merupakan senopati perang dari Kerajaan Pajang. Semasa hidupnya beliau mandi dan sesuci di Sendang Tretes ini yang terletak tidak jauh dari makamnya saat ini . Makam Ki Ageng Perwito banyak dikunjungi peziarah khususnya pada malam Jumat Wage.

 

Gambar Sendang Tretes ( Ngreden Wonosari )

4. Sendang Nglebak (Desa Krakitan Kecamatan Bayat)

Sendang Lebak sampai pada saat ini airnya masih digunakan untuk memandikan ibu yang hamil pada bulan ke tujuh untuk tujuan keselamatan bayi yang dikandung. Sedangkan Sumur Panguripan yang berada di sebelahnya pada jaman dahulu airnya dipercayai dapat menyembuhkan orang yang sakit ingatan (gila)

Gambar.Sendang Nglebak

5. » Umbul Buto ( Kedungan Pedan )

Umbul Buto yang terletak tidak jauh dari Umbul Tirtomoyo dahulu juga dipenuhi air yang bersih namun pada saat ini volume air sangat terbatas, dahulu digunakan untuk mandi dan berenang, namun sekarang airnya berkurang sangat aktivitas yang dilakukan hanya sekedar untuk berteduh dan bersantai.

Gambar Umbul Buto ( Kedungan Pedan )

6. » Rowo Jombor ( jimbung )

Rowo jombor terletak di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat dengan latar belakang pegunungan yang indah (deretan/barisan pegunungan kapur selatan yang membentang dari barat ke timur, Memancing, bersantai, berkendaraan keliling rawa untuk menikmati pemandangan. Jarak ± 8 km kea rah tenggara dari kota Klaten Luas Kawasan 198 ha Panjang Tanggul 7,5 km Lebar Tanggul 12 m Kedalam 4,5 m Daya Tampung Air 4.000.000 m3 Menurut cerita penduduk sejak dahulu kala ( tidak di sebut tanggal dan tahunnya) ada upacara getekan di Rowo Jombor tersebut yang bertepatan dengan upacara Syawalan di Sendang Bulus Jimbung dan sampai sekarang banyak di kunjungi oleh wisatawan. Prasarana jalan menuju Obyek Wisata Rowo Jombor dapat dicapai : – Klaten Bentogantungan Puslatpur Jimbung Rowo Jombor; – Stasiun Kotya Klaten Buntalan Jimbung Rowo Jombor; – Terminal Colt Karangwuni Pedan Cawas Bayat Rowo Jombor Kondisi jalan cukup baik, beraspal sampai tujuan. emandangan alam Rowo Jombor , makan (menikmati hidangan menu ikan goreng/bakar, dll).

Gambar Rowo Jombor ( jimbung )

7. » Sendang Bulus Jimbung

Sendang Bulus Jimbung, yang di dalamnya dipercayai terdapat seekor bulus putih yang keluar pada saat-saat tertentu dan dijadikan tempat melakukan ritual dengan maksud-maksud tertentu. Banyak pengunjung yang berasal dari luar daerah.aktifitas Kegiatan ritual (semedi, doa)

Gambar Sendang Bulus Jimbung

8» Taman Rekreasi anak anak di Bukit Sidoguro

Gambar Taman Rekreasi anak anak di Bukit Sidoguro


9. » Gua Kendil dan Gua Payung ( Krakitan Bayat )

Goa Kendil dan Goa Payung yang berada di komplek Bukit Sidagora. aktivitas Melihat goa, bersantai, berfoto, mengamati situasi goa.

Gambar Gua Kendil dan Gua Payung ( Krakitan Bayat )


10. » Bukit Petung ( Sidorejo Kemalang)

Bukit Petung yang terletak di lereng Gunung Merapi., cocok untuk kegiatan Trekking, melihat panorama alam, berfoto, melakukan petualangan alam


Gambar Bukit Petung ( Sidorejo Kemalang)

11. » Umbul Gedaren ( Kel jatinom Kec jatinom )

Umbul Gedaren terdiri atas Umbul Jaler dan Umbul Estri yang pada saat ini digunakan sebagai tempat mandi dan mencuci bagi penduduk setempat.

Umbul Gedaren ( Kel jatinom Kec jatinom )


12. » Gua Suran ( Kel jatinom Kec jatinom )

Goa Suran yang diyakini merupakan goa tempat Ki Ageng Gribig mengajar/mendidikdan memberikan wejangan kepada Sultan Agung. Dinamakan Suran karena di dekat goa tersebut terdapat air melimpah (sur-suran) dari atas goa yang diyakini berasal dari rumah Ki Ageng Gribig di Masjid Alit yang dibawa dari Mekah

Gambar Gua Suran ( Kel jatinom Kec jatinom )


13. » Pemandian Lumban Tirto

Pemandian Lumban Tirto, Terletak di Desa Daleman, Kecamatan Tulung Jarak dari kota Klaten ± 17km Luas 25m x 8m = 200m2 Luas kawasan 700m2 Kedalaman rata rata 1,5m Fungsi sebagai kolam renang Disebelah barat laut lokasi pemandian Lumban Tirto tersebut terdapat Umbul Ingas dengan pemandangan panorama yang bagus, disini sumber air ini digunakan untuk air minum Kraton Surakarta Hadiningrat atas prakarsa Paku Buwono X hingga sekarang

Gambar Pemandian Lumban Tirto


14. » Pemandian Jolotundo

Pemandian Jolotundo, Terletak di Desa Jambeyan, Kecamatan Karanganom Jarak dari kota Klaten ± 8 km Luas 11m x 20m = 220m2 Luas kawasan 500m2 Kedalaman rata rata 2 m Fungsi sebagai tempat permandian

Gambar Pemandian Jolotundo


15. » Pemandian ponggok




16. » Umbul Tirto Mulyono dan Tirto Mulyani ( Pluneng Kebonarum )

Gambar Umbul Tirto Mulyono

Letaknya di Desa Pluneng Kec. Kebonarum, Kabupaten Klaten Pemandian (Kolam Renang) Tirtomulyono yang merupakan pemandian dengan sumber air alam yang besar yang dahulu digunakan untuk mandi para putera (laki-laki).



Gambar Umbul Tirto Mulyani

Letaknya di Desa Pluneng Kec. Kebonarum, Kabupaten Klaten Pemandian (Kolam Renang) Tirtomulyani yang terletak tidak jauh dari pemandian Tirto Mulyono yang dahulu digunakan untuk mandi para puteri (perempuan).

17. » Sendang Klampeyan

Sendang Klampeyan yang juga diartikan sebagai penanda “sampeyan kalah”. Sendang tersebut diyakini merupakan sendang tempat Ki Ageng Gribig mengalahkan seorang tamu (alim ulama) dari negeri Arab yang bernama Syech Ibrahim, Kegiatan ritual (ziarah).


Gambar Sendang Klampeyan


18. » Sendang Gotan

 

Gambar Sendang Gotan


19. » Sendang Riyo Manggolo

Sendang Riyomenggolo. Konon menurut cerita Pangeran Riyomenggolo adalah tokoh yang dikenal memiliki kesaktian yang ampuh dan merupakan menantu dari Panembahan Romo. Sendang Riyomenggolo dahulu digunakan untuk memandikan Pangeran Riyomenggolo agar kesaktiannya luntur dan dapat dibunuh oleh ayahnya, Melihat sendang, berfoto


Gambar Sendang Riyo Manggolo


20. » Sendang Maerokoco

Sendang Maerokoco yang terdapat di pekarangan yang luas milik penduduk setempat (Bp. Pur/Mbah Pur). Dahulu banyak dikunjungi para peziarah untuk berbagai maksud dan tujuan, namun pada saat ini kondisinya tidak terawat, Ziarah dan kegiatan ritual lainnya.

 

Gambar Sendang Maerokoco


21. » Sendang Sinongko ( Pokak Ceper )

Terdapat dua sendang, yakni Sendang “Jaler” dan Sendang “Estri”. Di samping merupakan ODTW alam juga merupakan ODTW ziarah dan sebagai tempat mengadakan syukuran Bersih Desa setiap bulan Agustus pada hari Jumat Wage dengan menyembelih kambing.

 

 

Gambar Sendang Sinongko


22. » Sendang Belik gatak ( Jimus Polanharjo )

Asal mula Sendang Belik Gatok berasal dari Kyai Jamus yang menancapkan tongkatnya sehingga keluar air yang dipergunakan untuk wudhu. Tempat ini pernah ramai pada tahun 1980 sebagai tempat untuk mandi dan ziarah yang dipercaya masyarakat untuk berobat serta meminta keturunan, Mandi.

Gambar Sendang Belik gatak


23. » Umbul Tirtomoyo (Ds. Kedungan Kec. Pedan)

Umbul Tirtomoyo yang terdapat di bawah pohon yang rindang, yang dahulu airnya sangat jernih dan berlimpah, namun pada saat ini airnya berkurang secara signifikan dan berwarna hitam (kotor). Di pinggir dibangun undak-undakan yang dahulu digunakan untuk memberikan fasilitas kepada para pengunjung (orang-orang yang mandi) di umbul tersebut. Umbul tersebut juga pernah digunakan oleh penduduk setempat untuk membudidayakan ikan namun akhirnya tidak berhasil.



24. » Gunung Watu Prahu (Dk. Girisono Ds. Gunung Gajah Kec. Bayat)

 

Watu Prahu (sebuah batu yang berbentuk seperti perahu terbalik) dengan ukuran panjang sekitar lima meter dan lebar 1,5 meter yang terdapat di pinggir jalan (arah dari dan ke Desa Watu Gajah) di tengah hutan di daerah perbukitan.


25. » Taman Bambu Cendani (Ds. Sidorejo Kec. Kemalang)

Taman Bambu Cendani yang terletak di lereng Gunung Merapi yang dapat diakses melalui pintu gerbang kawasan wisata Deles Indah.



26. » Goa Jepang (Desa Sidorejo Kecamatan Kemalang)

Goa Jepang yang terletak di lereng Gunung Merapi yang dapat diakses melalui pintu gerbang kawasan wisata Deles Indah, Penjelajahan alam, trekking, mengamati goa, berfoto, outbound.


27. » Goa Jetis (Kelurahan Jatinom Kec. Jatinom)

Goa Jetis yang terletak di kawasan makam Ki Ageng Gribig diyakini dulu merupakan tempat untuk menyusun kekuatan laskar Ki Ageng Gribig melawan Belanda yang diketuai oleh Ki Ageng Guntur Geni, Kegiatan ritual (ziarah).


28. » Umbul Susuhan (Desa Manjungan Kec. Ngawen)

 

Umbul Susuhan yang pada saat ini airnya masih melimpah dan digunakan sebagai tempat mandi dan mencuci bagi warga masyarakat setempat. Aktivitas masyarakat setempat adalah mandi dan mencuci.


29. » Umbul Her Pancuran Sidomulyo (Ds. Soropaten Kec. Karanganom

Umbul yang dibuat oleh anak-anak muda pada waktu perang kemerdekaan yang pembangunannnya direstui oleh Ki Karsorejo. Ki Karsorejo merupakan pejuang kemerdekaan yang mempunyai nama kecil Jumadikun dan menjadi tokoh spiritual yang dihormati. Kegiatan ritual (ziarah).



PARIWISATA KLATEN


MENGGALI PARIWISATA
DI KABUPATEN KLATEN

 

OLEH :
DRS LUGTYASTYONO BN M.Pd
SEKRETARIS DISBUDPARPORAKLATEN

PEMERINTAH KABUPATEN KLATEN

DINAS KEBUDAYAAN PARIWISATA DAN PEMUDA OLAH RAGA

1.
  1. 1.Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
  2. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata.
  3. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah.
  4. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan pengusaha.
PARIWISATA MENCIPTAKAN DAMPAK EKONOMI MULTI GANDA  :

  1. Dampak langsung,
  2. Dampak tak langsung,
  3. Dampak ikutan,
yang memberi peluang bagi tumbuhnya Usaha dan peran masyarakat lokal Dalam sektor kepariwisataan

1. Dampak langsung :

Hotel, Restoran, Perusahaan angkutan / Airline , Galleri, art shop, Jasa
keuangan

2. Dampak tak langsung :

Karyawan Hotel, Restoran, Sopir angkutan um,um , Pengrajin cindera
mata Pompa bensin penjual sayuran , buah dan makanan seniman
ikllan percetakan

3. Dampak ikutan :

Petani sayuran, bunga dan buah, Peternakayam, ikan dan sapi, Penghasil
bahan baku kerajinan Sektor agrobisnis

SADAR WISATA

Sadar Wisata adalah Terciptanya suatu kondisi kepariwisataan di Indonesia yang diinginkan ditengah-tengah masyarakat melalui penerapan unsur-unsur sapta pesona secara konsekuen dan konsisten atas dasar kesadaran yang tumbuh dari dalam sendiri

Contoh : – Ilustrasi “ Pohon Pariwisata “


Kalau kita menanam pohon Mangga , Banyak hal yang harus diperhatikan untuk merawat tanamanjambu ini . Merawat tanaman tak hanya cukup memberi air dan pupuk supaya tanaman tumbuh subur dan sehat, tetapi juga memperhatikan jenis tanaman, kondisi tanah, iklim dan penyakit yang kemungkinan dapat menyerang sehingga juga perlu disemprot agar tak terkena haman.

Apabila Pariwisata hendak kita gambarkan seperti pohon Mangga tersebut maka sadar wisata dapat kita gambarkan bagian bawah yaitu bagian akarnya

jadi kesimpulannya bahwa kedudukan Sadar Wisata pada bagian bawah yaitu bagian akarnya, akan menjadi pondasi ( penjyangga ) yang kuat sehingga akan tumbuh subur dan kuat


SAPTA PESONA

sapta pesona adalah kondisi yang harus diwujudkan dalam rangka menarik minat wisatawan berkunjung ke suatu daerah atau negara kita, agar wisatawan memperpanjang masa tinggal (length of stay) disuatu daerah serta memperoleh kepuasan atas kunjungannya.

Sapta pesona terdiri dari tujuh unsur yaitu :

  1. AMAN,
  2. TERTIB,
  3. BERSIH,
  4. SEJUK,
  5. INDAH,
  6. RAMAH, DAN
  7. KENANGAN
1.AMAN,

Wisatawan akan senang berkunjung dan tinggal di suatu tempat apabila mereka merasa aman,tentram tidak takut baik bagi dirinya maupun harta bendanya, yaitu :

* Bebas dari kejahatan, pencopetan, pemerasan, penodongan selama berada ditempat objek wisata dan tempat – tempat lainya.

* Terserang penyakit menular dan penyakit lainnya

* Bebas dari kecelakaan yang disebabkan alat perlengkapan dan fasilitas yang diperlukan kurang baik.

* Bebas dari gangguan masyarakat, seperti pemaksaan oleh pedagang asongan, tangan jahil, ucapan dan perilaku yang tidak bersahabat di tempat – tempat rekreasi atau objek wisata.

2. TERTIB,

Kondisi yang tertib adalah sesuatu yang sangat didambakan oleh setiap orang, termasuk wisatawan yang tercermin dari suasana yang teratur, rapi, adanya disiplin yang tinggi seperti :

* Lalu lintas tertib, teratur dan lancar, alat transportasi tepat waktu

* Jam masuk kerja karyawan baik karyawan di hotel – hotel, biro perjalanan, karyawan di objek wisata selalu tepat waktu.

* Tata letak bangunan, lalu lintas daan sarana transportasi lainnya serta taman kota yang tertata rapi, sesuai dengan aturan yang berlaku

* Pelayanan dilakukan secara baik dan tepat.

* Informasi yang benar dan tidak membinggungkan

3. BERSIH

Bersih adalah sesuatu keadaan / kondisi lingkungan dan suasana yang menampilkan kebersihan dan kesehatan di semua tempat yang menjadi kegiatan manusia baik ditempat umum maupun di daerah-daerah tempat tujuan,

seperti:

* Lingkungan yang bersih di objek-objek wisata, hotel-hotel, restoran dan sarana angkutan bersih dari sampah, kotoran, coret-coret, asap knalpot mobil dan lain-lain.

* Makanan dan minuman yang akan dikonsumsi bersih dan sehat, didukung WC/Toilet yang higienis serta suasana lingkungan yang nyaman dan tertata apik.

* Penggunaan dan penyediaan alat perlengkapan yang bersih seperti sendok,garpu, piring, tempat tidur alat olah raga dan sebagainya

* Pakaian dan penampilan petugas bersih rapi dan tidak mengeluarkan bau yang tidak sedap dan lain sebagainya

4. SEJUK

 

Sejuk adalah suatu keadaan/kondisi yang menampilkan lingkungan dan suasana yang sejuk, nyaman dan tenteram karena lingkungan yang serba hijau, segar dan asri. Kesejukan yang dikehendaki tidak saja harus berada di luar ruangan atau bangunan, akan tetapi di dalam ruangan kerja, lobby, kamar-kamar hotel, ruangan kantor biro-biro perjalanan dan sebagainya.

* Turut aktif memelihara keindahan pepohonan dilingkungan, serta hasil penghijauan yang telah dilaksanakan oleh masyarakat atau pemerintah.

* Mengisi ruangan kerja, kamar-kamar dengan berbagai penghijauan/bunga-bungaan yang alami.

* Berperan aktif dalam melaksanakan misalnya melakukan penanaman pohon dilingkungan objek wisata, halaman hotel-hotel, rumah makan, pertokoan dan perkantoran serta rumah-rumah tempat tinggal.

* Membentuk perkumpulan yang tujuannya memelihara kelestarian lingkungan

5. INDAH

Keadaan/suasana yang menampilkan lingkungan yang menunjukkan keserasian dan keselarasan suatu lingkungan seperti tata warna, tata letak, tata bentuk ruang, gaya, gerak serasi dan selaras di objek wisata serta akomodasi sehingga memberi yang enak dan cantik untuk dilihat dan nuansa indah yang memenuhi nilai-nilai estetika.

6. RAMAH

Ramah adalah suatu sikap dan perilaku seseorang yang menunjukkan keakraban, sopan dan senang membantu. Suka tersenyum Ramah tamah sebagaimana yang dimaksud merupakan watak dan budaya Indonesia yang selalu menghormati tamunya dan dapat menjadi tuan rumah yang baik. Sikap ramah-tamah ini menjadi salah satu hal yang sangat menarik bagi wisatawan. Sebagai contoh sikap ramah-tamah yang diharapkan wisatawan baik di hotel maupun di objek-objek wisata dan pusat-pusat perbelanjaan, yaitu sikap ramah petugas atau karyawan dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan.

7. KENANGAN

Kenangan adalah suatu kesan yang melekat kuat pada ingatan dan perasaan seseorang yang disebabkan oleh pengalaman yang diperolehnya. Kenangan yang ingin diwujudkan dalam ingatan wisatawan adalah kenangan indah dan menyenangkan dalam berwisata pada akhirnya akan berkesan dan ingin mengunjungi tempat wisata tersebut dilain waktu

antara lain:

* Akomodasi yang nyaman, bersih, sehat, pelayanan yang cepat, tepat dan bersih. Suasana yang mencerminkan ciri khas daerah dalam bentuk dan gaya bangunan, suasana dan dekorasinya.

* Atraksi seni dan budaya yang khas dan mempesona, baik itu berupa seni tari, seni suara dan berbagai macam upacara

* makanan dan minuman khas daerah yang lezat dan nikmat dengan penampilan dan penyajian yang menarik sebagai oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung dan dan dapat dijadikan jati diri ( identitas ) bangsa.

* Tersedianya berbagai souvenir ( cinderamata ) yang bagus dan menarik hasil kerajinan masyarakat setempat ( khas ) yang mudah dibawa dan dengan harga yang terjangkau, mempunyai arti tersendiri dan dapat dijadikan bukti atau kenangan